Melalui jaringan backlink yang kami miliki merupakan penyedia jasa backlink menerima berbagai backlink Indonesia dengan layanan jasa backlink murah yang kami kelola secara manual dan profesional. Kami menawarkan jasa backlink terbaik. Bagaimana cara membeli backlink dari kami?. Silahkan 👉 Hubungi Kami! harga sangat terjangkau!

Content Placement

Berikut adalah daftar 50 situs Jaringan Backlink kami!
01. Backlink Indonesia 26. Iklan Maluku Utara
02. Backlink Termurah 27. Iklan Nusa Tenggara Barat
03. Cara Membeli Backlink 28. Iklan Nusa Tenggara Timur
04. Iklan Aceh 29. Iklan Online Indonesia
05. Iklan Bali 30. Iklan Papua
06. Iklan Bangka Belitung 31. Iklan Papua Barat
07. Iklan Banten 32. Iklan Riau
08. Iklan Bengkulu 33. Iklan Semesta
09. Iklan Dunia 34. Iklan Sulawesi Barat
10. Iklan Gorontalo 35. Iklan Sulawesi Selatan
11. Iklan Internet 36. Iklan Sulawesi Tengah
12. Iklan Jakarta 37. Iklan Sulawesi Tenggara
13. Iklan Jambi 38. Iklan Sulawesi Utara
14. Iklan Jawa Barat 39. Iklan Sumatra Barat
15. Iklan Jawa Tengah 40. Iklan Sumatra Selatan
16. Iklan Jawa Timur 41. Iklan Sumatra Utara
17. Iklan Kalimantan Barat 42. Iklan Terbaru
18. Iklan Kalimantan Selatan 43. Iklan Yogyakarta
19. Iklan Kalimantan Tengah 44. Jaringan Backlink
20. Iklan Kalimantan Timur 45. Jasa Backlink
21. Iklan Kalimantan Utara 46. Jasa Backlink Murah
22. Iklan Kepulauan Riau 47. Jasa Backlink Terbaik
23. Iklan Lampung 48. Jasa Backlink Termurah
24. Iklan Link 49. Media Backlink
25. Iklan Maluku 50. Raja Backlink

Kami jaringan backlink sebagai media backlink bisa juga menerima content placement yakni jasa backlink termurah kami di dalam artikel. Pesan segera jasa backlink termurah ini. Karena kami adalah raja backlink yang sebenarnya!

Peluang Agen Iklan Online
Tampilkan postingan dengan label Hersubeno Arief. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hersubeno Arief. Tampilkan semua postingan

Payung Erotis Rezim Otoriter dan Kematian Gerakan Mahasiswa by Hersubeno Arief

Info informasi Payung Erotis Rezim Otoriter dan Kematian Gerakan Mahasiswa by Hersubeno Arief atau artikel tentang Payung Erotis Rezim Otoriter dan Kematian Gerakan Mahasiswa by Hersubeno Arief ini semoga dapat bermanfaat, dan menambah wawasan. Selamat Membaca! Jangan lupa dishare juga! Jika merasa artikel ini bermanfaat juga untuk orang lain.

[PORTAL-ISLAM.ID]  Jika Anda sempat berkunjung ke kota Yangon, Myanmar pada awal tahun 90-an, ada satu pemandangan yang sangat khas di Danau Inya. Payung-payung besar berderet di sepanjang tepian danau terbesar di kota Yangon itu.

Tidak semua payung berukuran besar. Ada juga dua payung kecil yang dijadikan satu. Fungsi payung itu bukan untuk berteduh, namun untuk menghalangi pemandangan dari arah belakang.

Di balik payung-payung itu pasangan muda-mudi �hanya� mengenakan sarung �pakaian nasional Myanmar� asyik bermesraan. Mereka seakan tak peduli dengan pasangan lain, walaupun jaraknya berdekatan. Seolah sudah tahu, sama tahu.

Jangan sekali-kali mengganggu mereka. Kawasan ini diawasi dengan ketat oleh rezim junta militer yang berkuasa. Letaknya sangat strategis. Di pinggir jalan utama, antara pagoda Shwedagon dengan Yangon University. Pusat gerakan para pengunjukrasa.

Inilah cara rezim mengalihkan energi mahasiswa agar tidak lagi berunjukrasa menentang junta militer. �Silakan bercinta sesuka hati dan sepuasnya, asal jangan berunjukrasa,� tampaknya begitulah prinsip rezim penguasa.

Payung, dan sarung adalah paduan yang sempurna untuk mengalihkan fokus perhatian mahasiswa dari persoalan politik.

Junta militer di Myanmar mempunyai pengalaman dan sejarah panjang menghadapi gerakan unjukrasa dimotori mahasiswa. Berkuasa sejak tahun 1962 di bawah kendali Ne Win, seorang jenderal keturunan Cina, mereka berkali-kali berhasil mematahkan unjukrasa besar-besaran. Barangkali Kalau sekarang disebut sebagai people power.

Tak lama setelah berkuasa pada tahun 1962 Ne Win memadamkan aksi mahasiswa dengan jalan kekerasan. Salah satu pidatonya yang terkenal. �Jika demonstrasi ini dipakai untuk menantang kami. Maka kami akan hadapi pedang dengan pedang. Tombak dengan tombak,� tegasnya.

Pengunjukrasa digilas habis. Kampus-kampus ditutup selama 2 tahun. Pada tahun 1965, 1968, 1974, dan 1975 Myanmar saat masih bernama Burma diguncang berbagai unjukrasa besar. Puncaknya terjadi pada tahun 1988 atau lebih dikenal sebagai pemberontakan 8-8-88 karena terjadi pada tanggal 8 Agustus 1988.

Ne Win kembali menghadapinya dengan keras. Dia memperingatkan para demonstran bahwa militer Burma tidak punya kebiasaan menembak ke udara. Tak lama setelah pemberontakan dipadamkan, Ne Win mengundurkan diri. Namun dibalik layar dia tetap berkuasa selama 10 tahun berikutnya.

Tradisi berasyik masyuk di balik payung masih terus berlangsung hingga saat ini. Rezim militer berbagi kekuasaan dengan rezim sipil pimpinan Aung San Suu Kyi yang juga tak kalah otoriternya menghadapi kelompok minoritas Rohingya.


Rezim penindas, dan kelompok yang pernah ditindas bekerjasama menindas kelompok minoritas.


NKK-BKK dan peran emak-emak

Berkuasa tak lama setelah junta militer di Burma, rezim Orde Baru di bawah Soeharto punya cara berbeda dalam menghadapi aksi unjukrasa.

Menghadapi aksi-aksi mahasiswa setelah peristiwa Malari 1974 dan Parlemen jalanan pada tahun 1978 pemerintah juga mengambil jalan keras. Beberapa tokoh mahasiswa ditangkap dan diadili.

Banyak di antaranya kini masih hidup. Ada yang tetap konsisten bersikap kritis di luar pemerintahan seperti Hariman Siregar. Ada yang masuk di pemerintahan seperti Dipo Alam. Ada juga yang pernah masuk di pemerintahan dan kemudian kembali turun ke jalanan seperti Rizal Ramli.

Pada tahun 1978 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) Daoed Joesoef mengeluarkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Setelah itu disusul dengan Badan Koordinasi Kemahasiswan (BKK).

Melalui NKK-BKK kegiatan mahasiswa dikebiri. Kebijakan ini juga dikenal sebagai depolitisasi kampus. Mahasiswa dilarang melakukan aktivitas politik. Kebebasan intelektual dibatasi, dan kegiatan mahasiswa dikontrol ketat.

Ketika menteri P&K dijabat oleh Brigjen TNI Nugroho Notosutanto mahasiwa benar-benar dijauhkan dari politik. Organisasi ekstra kampus seperti HMI, GMNI, PMII dll digusur keluar kampus.

Aktivitas kemahasiswaan disalurkan melalui Senat Mahasiswa dengan dosen sebagai pelindung/pengawasnya.

Di tengah tekanan yang begitu ketat, kegiatan mahasiswa tetap menggeliat. Peran mereka sangat terlihat ketika berlangsung unjukrasa 1998. Dipicu penembakan atas empat orang mahasiswa Universitas Trisakti, mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR. Rezim Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun tumbang.

Pada Era Reformasi keran kebebasan mahasiswa dan kampus kembali dibuka. Namun tampaknya aktivitas mahasiswa di kampus sudah mati suri.

Para aktivis 98 banyak yang masuk di pemerintahan, menjadi komisaris di BUMN, atau menjadi Anggota DPR.

Sikap mereka sama. Bahkan banyak yang lebih buruk dari rezim yang pernah dikritik dan ditumbangkannya.

Puncaknya pada Pemilu 2019. Ada 600 orang petugas KPPS meninggal dunia mereka diam seribu basa. Ada kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan massif pada pilpres mahasiswa asyik dengan dunianya sendiri.

Ada 8 nyawa mati sia-sia tertembak, ada kekerasan aparat, mahasiswa dan kaum intelektual di kampus malah memberi berbagai dalih mendukung penguasa sambil menghujat dan menista para korban dan pengunjukrasa.

Pemerintah tak perlu susah payah meniru junta militer di Burma. Menyediakan fasilitas umum agar mahasiswa bebas bercinta dan kehilangan semangat berunjukrasa mempersoalkan ketidak-adilan penguasa.

Kita juga tidak bisa meniru gaya para aktivis mahasiswa era 70-80an. Mengirim paket pakaian dalam dan bra ke kampus-kampus yang mahasiswanya acuh tak acuh dengan kondisi sosial politik dan penderitaan rakyat.

Pemilik �benda-benda� itu, yakni para emak-emak jauh lebih peka dan perkasa dibandingkan para mahasiswa. end

Penulis: Hersubeno Arief


Demikian artikel tentang Payung Erotis Rezim Otoriter dan Kematian Gerakan Mahasiswa by Hersubeno Arief ini dapat kami sampaikan, semoga artikel atau info tentang Payung Erotis Rezim Otoriter dan Kematian Gerakan Mahasiswa by Hersubeno Arief ini, dapat bermanfaat. Jangan lupa dibagikan juga ya! Terima kasih banyak atas kunjungan nya.

Safari Keprihatinan Para Jenderal by Hersubeno Arief

Info informasi Safari Keprihatinan Para Jenderal by Hersubeno Arief atau artikel tentang Safari Keprihatinan Para Jenderal by Hersubeno Arief ini semoga dapat bermanfaat, dan menambah wawasan. Selamat Membaca! Jangan lupa dishare juga! Jika merasa artikel ini bermanfaat juga untuk orang lain.

[PORTAL-ISLAM.ID]   Jumat siang (24/5) sosok bertubuh jangkung mengenakan baju koko dan peci warna hitam berjalan menyusuri gang padat di Jalan Petamburan V, Jakarta Barat.

Di belakangnya, sejumlah orang mengenakan pakaian yang sama mengikutinya. Sampai di sebuah mulut gang sempit dia berbelok.

Di mulut gang, tepatnya di Posyandu RT 10/RW 05 Petamburan bersandar sebuah papan karangan bunga ucapan bela sungkawa atas meninggalnya seorang remaja Rayhan Fajari (16) dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Lelaki bertubuh jangkung itu adalah Letjen TNI ( Purn) Sjafrie Sjamsoeddien mantan Wakil Menteri Pertahanan pada Kabinet Presiden SBY. Berjalan di samping dan belakangnya semuanya mantan petinggi TNI.

Ada Letjen TNI ( Purn) Agus Sutomo mantan Irjen Dephan, pernah menjabat Komandan Paspampres, Danjen Kopassus dan Pangdam Jaya. Mayjen Meris Wiryadi mantan Pangdam Patimura dan ajudan Wapres Jusuf Kalla. Mayjen TNI (Purn) Iwan R Sulanjana mantan Pangdam Siliwangi, Mayjen TNI (Purn) Abikusno mantan Aslog Panglima TNI dan Brigjen TNI (Purn) Mazni Harun mantan Danpussenarhanud TNI AD.

Sjafrie dan rombongan hari itu menemui keluarga Reyhan. Remaja yang baru lulus SMP itu menjadi salahsatu korban tewas akibat kerusuhan 21-22 Mei.

Reyhan bukan pelaku kerusuhan. Dia aktivis remaja masjid yang baru saja selesai mengepel lantai masjid dan bersiap-siap membangunkan sahur warga.

Mendengar riuh rendah di jalan Raya Petamburan yang berjarak sekitar 2.00 meter mereka segera menuju ke sana.

Di depan Markas Brimob Petamburan mereka melihat ada sejumlah massa yang sedang berhadapan dengan sejumlah petugas Brimob.

Ketika asyik nonton sambil ngobrol, sebuah peluru menerjang pelipisnya. �Suaranya berdesing di atas telinga,� ujar salah satu teman Reyhan bernama Rayhan. Malam itu dia bersama Reyhan dan dua orang temannya. Keempatnya adalah remaja masjid.

Reyhan langsung roboh. Dia dievakuasi ke masjid Istiqomah dan kemudian dibawa RSAL Mintohardjo di Jalan Bendungan Hilir. Nyawanya tak tertolong karena tertembus peluru di pelipis kirinya.

Mendengar penjelasan remaja itu, Brigjen Mazni Harun memastikan yang digunakan petugas adalah peluru tajam. � Kalau peluru hampa dan karet tidak akan berdesing,� ujarnya.

Sjafrie dan rombongan bertemu, mengucapkan bela sungkawa dan memberi bantuan.�Ini urunan dari kami para purnawirawan. Tidak banyak, tapi mohon diterima sebagai bentuk simpati dan dukungan kami,� ujarnya kepada paman kurban.

Reyhan remaja lulusan SMP yang sedang bersiap masuk SMA itu sudah dimakamkan di Purwakarta, Jawa Barat kampung halaman orang tuanya. �Kasus ini harus diusut tuntas. Keadilan harus ditegakkan,� tegas Sjafrie kepada sejumlah media yang meliput peristiwa tersebut.

Sjafrie cukup lama berbincang dengan awak media. Anehnya satu media online mencoba memelintir berita dengan menyebut Reyhan terjatuh karena bertabrakan dengan tema-temannya yang berlarian karena ada kerusuhan. Ada kesan media tersebut ingin mengaburkan fakta bahwa Reyhan tewas terkena tembakan.

https://twitter.com/salmana10539426/status/1132156732950568962

Seorang eksekutif produser sebuah stasiun televisi nasional juga mengirim pesan. � Maaf kemungkinan beritanya tidak akan dimuat,� ujarnya dengan prihatin.

Dari rumah Reyhan, Sjafrie dan rombongan bergeser ke rumah seorang warga yang terluka karena kena tabung gas air mata. Sjafrie juga berjumpa dengan orang tua korban seorang remaja yang terkena tembak dan masih dirawat di RSAL Mintohardjo.

Setelah itu mereka bergerak menuju kawasan Slipi tak jauh dari kantor DPP Partai Golkar. Di salah satu gang yang padat mereka mengunjungi rumah Widianto Rizky Ramadhan (17). Pelajar sebuah SMK 60 Jakarta itu tewas dengan luka tembak di dada.

Dengan menahan air mata, Prihatin W orang tua Rizky menuturkan anaknya lahir di bulan Ramadhan dan kini juga tewas pada bulan Ramadhan.

Sebagaimana dikatakan oleh Gubernur DKI Anies Baswedan total ada 8 orang tewas dalam kerusuhan yang terjadi pada tanggal 21-22 Mei.

Dalam peristiwa itu pasukan Brimob banyak dituding sebagai pelaku penembakan.


Pengulangan peristiwa 1998

Kunjungan Sjafrie mengingatkan kita kembali pada tragedi 12 Mei 1998 di kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat. Empat orang mahasiswa tewas tertembak.

Sjafrie saat itu menjadi Pangdam Jaya dengan pangkat Mayjen. Kapolda Metro Jaya dijabat oleh Mayjen Pol Hamami Nata. Menkopolhukam Wiranto saat itu menjabat Menhankam/Panglima ABRI.

Wiranto juga memainkan peran penting dan menjadi penanggungjawab utama keamanan. Perannya persis seperti yang dimainkannya saat ini.

Wiranto saat ini malah terkesan pasang badan sepenuhnya menghadapi para pengunjukrasa dan kelompok oposisi yang mempersoalkan kecurangan Pilpres.

Pada peristiwa 1998, 12 orang anggota Brimob diadili dalam sidang di Mahkamah Militer. Adnan Buyung sebagai pembela menyebut mereka hanya kambing hitam. Namun politisi Gerindra Fadlizon dalam bukunya �Politik Huru-Hara 1998� menyebut dalam persidangan terbukti polisi lah pelaku penembakan.

Kapolri saat itu Jenderal Pol Dibyo Widodo menyebut pasukannya tidak dibekali peluru tajam. Namun di persidangan, masih kata Fadlizon, terbukti peluru yang digunakan berasal dari Steyer senjata organik milik Polri.

Pengakuan Dibyo waktu itu sama dengan pengakuan Kepala Divisi Humas
Mabes Polri Irjen Pol M. Iqbal. Kepada media Selasa (21/5) Iqbal mengatakan � Jika besok ada penembakan dengan peluru tajam dipastikan bukan berasal dari TNI dan Polri,� ujarnya.

Penjelasan Iqbal ini agak membingungkan. Sebelumnya di medsos beredar video Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto melakukan inspeksi pasukan pengamanan pemilu. Dalam dialog tersebut para prajurit memgaku selain dibekali peluru hampa dan karet, juga dibekali peluru tajam.

Sjafrie mendorong kasus ini dibuka dan hukum harus ditegakkan. Sebab dari fakta lapangan diketahui beberapa korban bukanlah pelaku kerusuhan. Reyhan dan Widianto bahkan tidak tahu menahu. Mereka hanya penonton.

Dibukanya kasus ini juga bisa menghilangkan spekulasi dan memberi kepastian hukum, terutama kepada kesatuan Brimob yang disalahkan.

Safari para purnawirawan jenderal mengunjungi keluarga para korban ini merupakan sebuah ironi. Mereka bergerak ketika pemerintah pusat dan kekuatan masyarakat sipil, akademisi, para intelektual dan media abai dengan tewasnya 8 korban.

Hanya pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam hal ini Gubernur Anies Baswedan yang turun tangan mengungkap data, melayat dan menyantuni korban. Anehnya tindakan Anies justru dikecam oleh juru bicara TKN Irma Suryani Chaniago. Anies dinilai tidak mensupport pemerintah pusat dan polisi.

Dibandingkan dengan peristiwa 1998, reaksi kekuatan masyarakat sipil kali ini sungguh berbeda. Saat itu dipicu Tragedi Trisakti seluruh kekuatan sipil bergerak, dan Soeharto tumbang dari kursi presiden setelah 32 tahun berkuasa.

21 tahun reformasi tampaknya sudah mengubah sikap publik kita. 600 orang petugas KPPS tewas, ditambah 8 orang yang tewas sia-sia bukanlah peristiwa yang luar biasa. Just a number, hanya sebuah angka

Secara statistik jumlah itu memang tidak seberapa. Dari total jumlah penduduk Indonesia sebanyak 265 juta jiwa, jumlah mereka yang Tewas hanya 0,0000022294339623 persen saja. Tidak signifikan dan tidak ada pengaruhnya. Jadi tak perlu dipersoalkan. end

Penulis: Hersubeno Arief


Demikian artikel tentang Safari Keprihatinan Para Jenderal by Hersubeno Arief ini dapat kami sampaikan, semoga artikel atau info tentang Safari Keprihatinan Para Jenderal by Hersubeno Arief ini, dapat bermanfaat. Jangan lupa dibagikan juga ya! Terima kasih banyak atas kunjungan nya.

Brimob Jahat dan Brimob Baik by Hersubeno Arief

Info informasi Brimob Jahat dan Brimob Baik by Hersubeno Arief atau artikel tentang Brimob Jahat dan Brimob Baik by Hersubeno Arief ini semoga dapat bermanfaat, dan menambah wawasan. Selamat Membaca! Jangan lupa dishare juga! Jika merasa artikel ini bermanfaat juga untuk orang lain.

[PORTAL-ISLAM.ID]  �Kejinya aparat kita sdh tahu. Tapi kejinya media, banyak yg blm tahu. Banyak umat yg tewas diterjang peluru brimob. Tapi yg dipajang adalah gambar polisi menggendong bayi. Keji dan biadab kalian, hai kuli media! Ingat, rakyat sendiri yg akan mengadili kalian!�

Pesan berantai itu dengan cepat beredar di media sosial. Tidak diketahui dengan pasti dari mana asalnya, dan siapa pembuatnya.

Namun bila kita telusuri via mesin pencari Google, gambar seorang anggota Brimob menggendong bayi itu merupakan foto lama.

Foto itu beredar di media sosial bersamaan dengan aksi penyanderaan di Markas Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat pada bulan Mei 2018. Narasi yang disematkan, seorang anggota Brimob sedang menggendong bayi salah satu narapidana teroris pelaku penyanderaan.

Apakah benar bayi yang digendong merupakan anak pelaku penyanderaan, juga tidak begitu jelas. Humas Mabes Polri hanya menyebutkan bayi tersebut anak seorang nara pidana yang ditahan di rumah tahanan Mako Brimob. Dia diamankan ketika Brimob menyerbu para penyandera.

Pesan yang ingin disampaikan pembuat foto: Anggota Brimob sangat baik. Tetap memperlakukan seorang bayi dengan sangat manusiawi, sekalipun dia anak seorang narapidana teroris.

Sebaliknya di medsos dalam beberapa hari belakangan ini, video orang-orang berseragam hitam-hitam Brimob sedang melakukan aksi kekerasan terhadap warga, banyak beredar.

Ada yang sedang mengejar dan memukuli pengunjukrasa di sekitar Gedung Bawaslu, Jakarta. Ada juga yang terlihat masuk ke pemukiman mencari para pelaku kerusuhan.

Jika menyaksikan berbagai video tersebut, publik sampai pada satu kesimpulan: Brimob jahat!

Inilah fenomena medsos yang kian marak belakangan ini. Desas-desus, kabar bohong, disinformasi, dan fakta sebenarnya bercampur baur menjadi satu.

Belum lagi munculnya aksi pembajakan akun media dan nomor handphone para tokoh oposisi. Akun dan nomor Hp itu kemudian digunakan untuk menyebar informasi palsu.

Ini bukan lagi era post truth, pasca kebenaran. Namun sudah memasuki anarki informasi. Realitas, fantasi, prasangka bercampur aduk.

Jangan timpakan semua kesalahan kepada para pengguna medsos. Ada andil besar pemerintah yang menyebabkan penyebaran berita hoax kian merajalela.

Kooptasi dan manipulasi media oleh pemerintah menyebabkan pers tidak lagi dipercaya publik. Publik kemudian beralih ke medsos sebagai rujukan.

Masyarakat hanya bisa marah, namun tak berdaya mendapati realitas media telah menjadi corong pemerintah dan menekan kelompok oposisi. Padahal dalam negara bebas fungsi utama media massa adalah sebagai alat kontrol pemerintah. Karena itu lah media disebut sebagai pilar ke empat demkrasi. The fourth estate.

Ketika salah satu pilarnya roboh. Maka robohlah bangunan demokrasi sebuah negara.

Pernyataan di medsos yang dikutip pada awal tulisan, setidaknya mewakili perasaan sebagian masyarakat kita. Geram, jengkel, marah, tapi tak mampu berbuat apa-apa. Medsos menjadi media perlawanan mereka.

Meracuni persediaan air bangsa

Fenomena yang kini tengah terjadi di Indonesia, sudah jauh-jauh hari diingatkan oleh Lance Morcan, wartawan dan penulis terkenal asal Selandia Baru.

Dalam bukunya yang ditulis bersama James Morcan The Orphan Conspiracies: 29 Conspiracy Theories from The Orphan Trilogy (2014) Lance Morcan mewanti-wanti.

�Memanipulasi media sama dengan meracuni persediaan air sebuah bangsa. Hal itu akan mempengaruhi seluruh kehidupan kita dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan.�

Itulah yang kini sedang terjadi di Indonesia. Pemerintah mengalami kebingungan sendiri. Mengendalikan, mengkooptasi, dan memanipulasi media, membuat kelompok oposisi membangun kantong-kantong perlawanan di media sosial.

Dengan karakternya yang bebas tak terkontrol, info yang bertebaran di medsos sulit untuk diverifikasi. Fakta dan hoax bercampur aduk. Kita acapkali sulit membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi. Namun publik cenderung lebih mempercayainya.

Apa boleh buat, seperti dikatakan Morcan �The media, like anything else, can be bought. Everything, it seems, has its price. Even the free press.�

Media seperti yang lain. Bisa dibeli. Semua tampaknya ada harganya. Termasuk pers bebas.

Media arus utama (mainstream) tambah Morcan, sudah seperti infotaintmen. Lebih banyak kesamaan dengan industri hiburan dibandingkan dengan jurnalisme tradisional.

�Gosip, penokohan dan suntikan drama secara halus diinfuskan dengan fakta, mengubah kebenaran dengan cara yang mirip dengan bagaimana para dramawan memutar kisah nyata untuk menciptakan kegembiraan yang lebih besar.�

Sampai kapan situasi ini akan kita biarkan terus berlangsung? Sampai kapan kita terus menebar racun di persediaan air bangsa?

Jangan sampai kesadaran itu datang terlambat. Kesadaran baru datang ketika kita semua sudah menelan racun. Leher kita tercekik dan kematian di ambang mata. end

Penulis: Hersubeno Arief


Demikian artikel tentang Brimob Jahat dan Brimob Baik by Hersubeno Arief ini dapat kami sampaikan, semoga artikel atau info tentang Brimob Jahat dan Brimob Baik by Hersubeno Arief ini, dapat bermanfaat. Jangan lupa dibagikan juga ya! Terima kasih banyak atas kunjungan nya.

Para Gerilyawan Digital di Negeri Demokrasi by Hersubeno Arief

Info informasi Para Gerilyawan Digital di Negeri Demokrasi by Hersubeno Arief atau artikel tentang Para Gerilyawan Digital di Negeri Demokrasi by Hersubeno Arief ini semoga dapat bermanfaat, dan menambah wawasan. Selamat Membaca! Jangan lupa dishare juga! Jika merasa artikel ini bermanfaat juga untuk orang lain.

[PORTAL-ISLAM.ID]   �Everyone has the right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold opinions without interference and to seek, receive and impart information and ideas through any media and regardless of frontiers.� Article 19 The Universal Declaration of Human Right

Bila mengacu pada deklarasi Hak Asasi Manusia (HAM), rezim pemerintahan Jokowi bisa terancam sanksi dari lembaga internasional karena telah melakukan pelanggaran serius.

Pembatasan akses terhadap sejumlah aplikasi media sosial WhatsApp, Instagram, dan Facebook oleh pemerintah jelas bertentangan dengan bunyi artikel ke-19 Deklarasi HAM sedunia.

�Setiap orang berhak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi; hak ini termasuk kebebasan untuk memiliki pendapat tanpa campur tangan dan untuk mencari, menerima dan memberikan informasi dan ide melalui media apa pun dan tanpa memandang batas�.

Sejak Rabu (22/5) bersamaan aksi unjukrasa besar-besaran di Gedung Bawaslu, Jakarta, pemerintah mulai membatasi penerimaan video dan foto pada sejumlah platform sosial media.

Pembatasan itu seperti dikatakan Menkominfo Rudiantara dilakukan untuk sementara waktu. Tidak jelas sampai kapan.

Alasannya untuk membatasi penyebaran konten hoax, alias kabar bohong. Rudiantara menyarankan, untuk mendapatkan informasi, masyarakat kembali ke media mainstream.

Dampaknya langsung terasa. Para pengguna media sosial kesulitan mengirim pesan melalui WA, dan mengunggah informasi melalui facebook dan IG.

Namun hanya beberapa waktu berselang para netizen sudah menemukan jalan keluarnya. Para pengguna ponsel berbasis android segera menggunakan VPN ( Virtual Private Network ).

Koneksi antar-jaringan bersifat pribadi yang tersedia di aplikasi Google Play Store itu laris manis. Infonya menyebar dengan cepat dari tangan ke tangan.

Tak lama kemudian koneksi internet para pengguna Android lancar jaya. Berbagai video, foto, dan info dengan cepat mengalir kembali seperti air bah.

Mereka bisa langsung mendapatkan informasi, video dan foto-foto aktual aktivitas para pengunjukrasa dari seputar kawasan Bawaslu. Kerusuhan di sekitar Slipi, dan Petamburan, Jakarta Barat yang lokasinya berjarak beberapa kilometer dari gedung Bawaslu di Jalan Thamrin juga bisa diakses dengan cepat. Begitu juga info unjukrasa di berbagai daerah lain seperti Madura, Pontianak, Medan dll.

Selain menggunakan VPN, para aktivis dunia maya juga banyak yang bermigrasi ke aplikasi percakapan dan pengiriman pesan Telegram.

Group-group percakapan, markas para gerilyawan di dunia maya, banyak dipindahkan dari WA ke Telegram.

Aplikasi asal Rusia ini dinilai relatif lebih aman dan belum terjamah pemerintah. Target pemerintah membatasi info di media sosial gagal total.

Ironi demokrasi

Pembatasan berbagai akses informasi yang dilakukan pemerintah merupakan sebuah ironi dalam negara demokrasi.

Sebagai politisi sipil dan terpilih melalui jalur demokrasi, Jokowi memilih jalur anti demokrasi untuk mempertahankan jabatannya. Pembatasan informasi adalah bentuk nyata rezim demokrasi di Indonesia telah bermetamorfosa menjadi rezim tirani.

Maraknya berbagai penyebaran video, foto, dan info melalui jalur medsos, selain sebuah keniscayaan karena kemajuan teknologi, juga disebabkan oleh kooptasi media arus utama oleh pemerintah.

Sudah lama publik meninggalkan media arus utama sebagai rujukan informasi. Publik sangat kecewa dengan sikap media yang tidak lagi independen. Mereka hanya memberitakan informasi satu arah yang berasal dari pemerintah.

Seruan untuk tidak membaca media mainstream dan tidak menonton televisi bergema di medsos. Publik semakin kecewa ketika menyadari TV One, satu-satunya media yang relatif tidak bisa dikooptasi, akhirnya harus menyerah juga.

Seiring berhentinya tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC) kebijakan redaksi TV One berubah drastis. Gayanya tak berbeda dengan media-media lain yang lebih dulu dikooptasi dan ditundukkan pemerintah.

Dalam aksi di Bawaslu selama dua hari berturut-turut (21-22/5) TV One masih menyiarkan secara langsung. Namun nara sumber di studio yang ditampilkan pernyataannya sangat memihak pemerintah.

Seorang tukang bajaj yang mangkal tak jauh dari kawasan Bawaslu bahkan bisa dengan fasih menceramahi penumpangnya untuk tak lagi menonton televisi. Dia mewanti-wanti televisi telah menjadi media penyebaran kabar bohong dari pemerintah.

Redaksi TV One tampaknya harus pandai-pandai �bermain� tarik ulur di tengah tekanan rezim penguasa. Entah sampai kapan.

Dalam dunia penyiaran dikenal sebuah istilah �rezim remote control �. Seorang penonton sangat independen dan menentukan keberlangsungan sebuah program tayangan. Mereka tinggal pencet remote control maka selesailah nasib sebuah tayangan. Begitu pula nasib sebuah stasiun televisi.

Rezim Jokowi tampaknya tidak menyadari, jalan keras membatasi informasi, dalam jangka panjang akan merugikan mereka sendiri. Medsos menjadi media alternatif kelompok-kelompok perlawanan. Sesuai dengan karakternya medsos sangat bebas dan sulit dikontrol.

Informasi mengalir deras bersama limbah negatif di dalamnya. Tak bisa lagi dibedakan mana yang benar dan mana yang salah. Munculnya ketidakpercayaan publik atas apapun informasi yang bersumber dari pemerintah sangat berbahaya. Alih-alih berhasil memerangi hoax, kebijakan pemerintah mengkooptasi media justru malah menyuburkan hoax itu sendiri.

Media arus utama seakan menjadi makanan dan minuman beracun. Dijauhi dan ditolak publik.

Media mainstream, terutama televisi secara perlahan akan mati suri ditinggalkan publik. Pemerintah tak lagi mempunyai saluran resmi untuk berkomunikasi dengan rakyatnya. Saluran itu sudah mereka sumbat dan matikan sendiri. Yang terjadi adalah chaos dan anarki informasi.

Kini pemerintah harus menghadapi perlawanan dari para gerilyawan-gerilyawan digital. Perlawanan yang tidak mudah dipatahkan. Mereka akan selalu menemukan jalan lain ketika sebuah saluran informasi disumbat. end

Penulis: Hersubeno Arief


Demikian artikel tentang Para Gerilyawan Digital di Negeri Demokrasi by Hersubeno Arief ini dapat kami sampaikan, semoga artikel atau info tentang Para Gerilyawan Digital di Negeri Demokrasi by Hersubeno Arief ini, dapat bermanfaat. Jangan lupa dibagikan juga ya! Terima kasih banyak atas kunjungan nya.